Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan
PERTUMBUHAN PENDUDUK
Pertumbuhan penduduk merupakan
salah satu faktor yang
penting dalam masalah sosial
ekonomi umumnya dan masalah penduduk
khususnya. Karena di samping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk
juga akan berpengaruh terhadap
kondisi sosial ekonomi suatu
daerah atau negara bahkan dunia.
Misal : dengan bertambahnya penduduk
berarti
pula harus bertambah pula persediaan bahan makanan,
perumahan, kesempatan kerja, jumlah gedung sekolah dan sebagainya.
Waktu penggandaan penduduk dunia selanjutnya diperkirakan 35 tahun. Penambahan/pertambahan penduduk
di suatu daerah atau negara pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor demografi sebagai
berikut :
1. Kematian (Mortalitas)
2. Kelahiran (Fertilitas)
3. Migrasi
KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KEBUDA YAAN DI IN
DONESIA.
1.
Zaman Batu sampai Zaman Logam
Upaya menelusuri sejarah peradaban bangsa Indonesia, mulai dari zaman
batu sampai zaman logam, sungguh akan berliku-liku, memerlukan waktu pembahasan yang panjang. Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli prehistoris, ternyata
bahwa zaman
batu itupun terbagi
dalam :
Zaman batu tua (Palaeolithikum)
Zaman batu muda (Neo\ithikum).
Alat-alat batu pada zaman batu tua, baik bentuk ataupun permukaan peralatan masih kasar-kasar, misalnya
kapak genggam.
Kapak
genggam-kapak
genggam semacam itu kita kenal dari Eropa, Afrika, Asia Tengah
sampai Punsjab
(India), tapi kapak genggam semacam ini tidak didapati orang di Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian para ahli prehistori, bangsa-bangsa Proto Austronesia pembawa
kebudayaan Neolithikum
berupa kapak batu besar
maupun kecil bersegi-segi itu berasal dari Cina Selatan, menyebar ke arah
Selatan,
ke hilir sungai-sungai
besar sampai ke Semenanjung
Malaka.
Zaman batu muda (Neolithikum) benar-benar rnernbawa revolusi dalam kehidupan manusia. Pada zaman
ini.
mereka mulai hidup menetap, membuat rumah. membentuk kelompok masyarakat desa, bertani dan beternak untuk mernenuhi kebutuhan hidup. Sejalan dengan itu revolusi alat-alat keperluan penunjang kehidupan pun terjadi. Penyelidikan-penyelidrkan lebih lanjut mcnemukan bahwa manusia-manusia zaman batu muda itu telah mengenal dan memiliki kepandaian mengecor/mencairkan logam dari biji besi. dan menuangkan ke dalam cetakan-cetakan serta mendinginkannya. Oleh karcna itulah mereka mampu membuat aneka ragam senjata berburu dan berperang serta alat-alat lain yang diperlukan.
Zaman Logam
Bangsa Proto Austronesia yang masuk dari Semenanjung lndo China ke Indonesia itu rnembawa Kebudayaan Dongson. dan menyebar di Indonesia. Materi Dongson diantaranya berupa senjata-senjata tajam, dan kapak berbentuk sepatu dari bahan perunggu. Suatu hal yang patut dicatat tentang permulaan zaman logam ini, ialah kenyataan yang jelas bahwa
Indonesia sebelum zaman Hindu telah mengenal kcbudayaan yang tinggi derajatnya, dan zaman tersebut pada dasarnya penting sekali untuk
perkernbangan sejarah Indonesia selanjutnya.
| Kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam. |
1. Kebudayaan Hindu dan Budha.
2. Kebudayaan Islam.
Pada abad ke-15 dan ke-16 agama Islam telah dikembangkan di Indonesia. Oleh para pemuka Islam yang disebut Wali Sanga. Titik sentral penyebaran agama Islam pada abad itu berada di pulau Jawa. Sebenarnya agama Islam masuk ke Indonesia. khususnya ke pulau Jawa sebelum abad ke-11 sudah ada wanita Islam yang meninggal dan dimakarnkan di kota Gresik. Masuknya agama Islam ke Indonesia, teristimewa ke pulau Jawa berlangsung dalam suasana damai. Hal ini disebabkan karena Islam dimasukkan ke Indonesia tidak dengan secara
paksa. Melainkan dengan cara baik-baik. Karena sikap toleransi yang dimiliki oleh penduduk sekitar.
Perbedaan Setiap Kebudayaan
Setiap masyarakat mempunyai sistem nilai dan sistem kaidah sebagai nilai yang kongkrit. Nilai dan Kaidah berisikan harapan-harapan masyarakat, perihal perilaku yang pantas. Suatu kaidah, misalnya kaidah hukum memberikan batas-batas pada perilaku seseorang. Batas - batas tersebut menjadi suatu "aturan permainan" dalam pergaulan hidup, Sebaliknya, segala yang berbeda dari corak kebudayaan mereka dianggap rendah, aneh, kurang susila, bertentangan dengan hukum alam, dsb.